Airmata haru menetes pagi ini... Kemaren saya tulis pengalaman di group FB Komunitas Cerdas Merdeka sebagai berikut :Salah satu prosedur bergabung di Pendidikan Berbasis Karakter Cerdas Fun Learning adalah wawancara calon orang tua murid. Gaji ayahnya hanya Rp. 500 ribu per- bulan, anak mereka 3, anak pertama mereka berkebutuhan khusus. "Aku bantu ibu jualan asal aku boleh sekolah" ucap anaknya yang akhirnya gabung di program sosial ...Cerdas... Meskipun kehidupan mereka terbatas, namun ibu berhasil menanamkan daya juang kepada anaknya... :)
* Program sosialnya bernama Semai Benih Bangsa Cerdas, sebagai wujud kerjasama adopsi konsep pendidikan karakternya Ibu Ratna Megawangi (Istri Bapak Sofyan Djalil, Mantan Mentri BUMN)
Posting ini langsung direspon melalui inbox oleh salah satu orang tua murid yang anaknya bergabung di Pendidikan Berbasis Karakter Cerdas Fun Learning, dimana anak-anaknya ada partisipasi biaya pendidikan. Kemaren pesan saya balas, salah satu isinya "Saya sedang mencari orang tua asuh untuk anak ini"
Kenapa perlu orang tua asuh?
1. Bapak anak ini sebentar lagi akan di PHK karena tempatnya bekerja akan ditutup, artinya penghasilan Rp. 500 ribu/bulan akan lenyap. Walau ketika wawancara saya sarankan untuk siap-siap dulu cari pekerjaan lain, namun tidak lah semudah itu menjalaninya.
2. Orang tua yang anak dititipkan di program sosial Cerdas, tetap kami berikan tanggungjawab moral sebagai orang tua.
- Tujuannya : Mendidik orang tua bertanggungjawab pada anak, agar punya mental bukan sebagai penadah yang meminta-minta gratisan. Kenapa? Pengalaman soal miskin, rata-rata miskin itu soal mental, kalaupun ekonomi, dll adalah efek samping. Bukankah pendidikan anak jauh lebih penting daripada rokok?
- Pengalaman di awal menyelenggarakan program sosial, ketika tidak diberi kewajiban iuran, mereka kurang menghargai program pendidikan yang dirancang. Datang semaunya, tidak mau bekerjasama dengan pihak sekolah dengan terjadinya kekerasan pada anak, dll.
- Banyak yang mengaku-ngaku miskin. Awalnya mereka ikut program sosial yang waktu itu diberi kewajiban SPP Rp. 5.000/bulan, eh tiba-tiba berikutnya masuk ke TK yang bayar uang masuknya Rp. 750.000, SPP Rp. 100.000/bulan. (Hmm...nyes rasaku...)
Pagi ini... balasan di inbox masuk lagi bahwa beliau bersedia jadi orang tua asuh anak ini. Berbagai perasaan muncul. Bahagia, haru... akhirnya kita dapat saling bahu membahu...
Bahagia ini makin lengkap, karena begitu bangun tidur, suami membuktikan dukungan yang luar biasa untuk kegiatan istrinya. Akses internetku yang sangat lelet, akhirnya dicarikan solusi oleh suami. Sehingga bisnis dari rumah berjalan makin lancar, tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu dari 3 anak hasil cinta kami. Sehingga PRT paruh waktu sudah lebih dari cukup.
Ketika berbuat, Dia akan melihat. Mungkin awalnya apa yang kita lakukan dianggap orang lain tidak berarti, tidak ada apa-apanya, kita dituntut jadi manusia sempurna, dll... Kuncinya yang penting diri kita. Bukankah ketika dipanggil kembali kelak pertanggungjawaban kita juga masing-masing?
Yang penting berbuat yang terbaik dengan benar dari kemampuan terbaik yang kita miliki...
Salam pendidikan
Untuk semua anak bangsa
Mari bangun bangsa dengan membangun diri dan keluarga, demi Indonesia tercinta. MERDEKA! SEMANGAT!
Bekasi, 08 Juli 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar