Selasa, 28 Februari 2012

Prihatin Dot Com

Sebenarnya saya tidak ingin berkomentar ketika melihat bukti ketidakjujuran. Namun nurani ini tidak dapat dibohongi saat teringat praktek 'sogokan', 'uang pelicin' dan sejenisnya mewarnai arena 'raih prestasi' yang dipublikasikan ke masyarakat. 


Apalah artinya penghargaan bila diraih bukan dari prestasi murni? Apalah artinya penghargaan bila diraih dengan menghalalkan segala cara?  Masih adakah ruh dari penghargaan yang diterima?


Bukankah memberi uang pelicin, uang sogokan dan sejenisnya adalah wujud kebohongan? 

Jujur, saya memang masih sangat jauh jadi manusia alim yang suci. "Wong saya ini banyak kekurangan yang sampai sekarang masih terus diperbaiki kok". Tapi untuk menghalalkan segala cara untuk raih sesuatu, "maaf banget deh ya", lebih baik tidak juara dari pada melakukan praktek 'sogok'. Lebih berharga tidak juara daripada menjadi juara tapi hasil 'sogokan' pakai 'uang pelicin', beda-beda tipis dengan prilakunya Gayus dan para koruptor, astagfirullahal'aziim...

Mari kembalikan semua ke hati nurani masing-masing. Curhat ini merupakan bentuk keprihatinan dari seorang anak bangsa yang tidak dapat berbuat apa-apa di saat melihat praktek sogok berjamaah... :( 

Cibubur, 28 Februari 2012
Ermalen Dewita 

Tidak ada komentar: