Suatu hari saya mendapat tugas presentasi di depan Profesor, Dosen salah satu mata kuliah yang saya ikuti. Usai saya presentasi, sang Profesor memaparkan materi yang sama, yang pernah disampaikannya di sebuah acara nasional.
Dari pemaparan Sang Profesor, saya kroscek dengan materi presentasi yang saya paparkan. "Owh ternyata pembahasan saya kurang tepat, lumayan banyak perbedaan" pikir saya ketika itu.
Pemikiran tersebut terbawa sampai perjalanan menuju rumah. "Apanya yang salah ya? Padahal materi tersebut saya buat berdasarkan jurnal penelitian yang sudah dipublish, menggunakan teori yang jadi acuan para pakar dalam melakukan penelitian. Kenapa yang saya bahas sampai tidak singkron dengan apa yang disampaikan sang Profesor ya?" nalarku bermain mencari tahu letak kesalahan yang sudah saya lakukan.
Berdialog dengan diri sendiri sepanjang perjalanan menuju rumah. Namun pertanyaan tersebut belum ada jawabannya. Sampai esok harinya, pertanyaan itu masih menggantung, membandingkan tugas yang dikerjakan dengan materi sang Profesor.
"Aha! Yes. Ternyata sudut pandang lah yang membuat materi yang saya sampaikan dengan materi sang Profesor terlihat tidak singkron. Bila Profesor masuk dari sudut pandang arti kata pertama, saya masuk dari arti kata kedua. Pintu masuk berbeda, dapat melahirkan penjabaran yang berbeda, walau secara garis besar intinya sama.
Akhirnya pertanyaan tentang pemikiran saya tentang sang Profesor pun berakhir. Berusaha membangun kebesaran jiwa bila nantinya nilai tugas saya dari sang Profesor dianggap minim bahkan tidak lulus. Kecuali bila sang Profesor menghargai sisi kekayaan berpikir dan memberi ruang perbedaan sudut pandang, itu lain cerita.
"The brain is the citadel of sense perception" Pliny The Elder.
Bukit Golf 26 November 2013
Ermalen Dewita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar