Rabu, 29 April 2015

MOTIVASI HIDUP DARI SOPIR TAKSI DI SINGAPORE

Pagi itu tepatnya hari Rabu 29 April 2015, waktu sangat mepet. Setelah urusan di Singapore selesai, saya menggunakan taksi menuju Changi Airport agar dapat pesawat menuju Kuala Lumpur.
Selama perjalanan banyak pelajaran hidup yang didapatkan dari sopir taksi. Posturnya menunjukkan dia seorang kakek dengan kondisi masih sangat sehat dan gesit. Rasa penasaranku melihat kondisinya, menghadirkan perbincangan kami sepanjang perjalanan.
Oh ternyata usianya 79 tahun. Aktifitas sebagai sopir taksi. "Di SIngapore orang boleh mati, tapi tidak boleh sakit. Karena biaya kesehatan di sini sangat mahal" cerita kakek tersebut.
"Saya punya anak 3, semua sudah kerja. Karena biaya sangat mahal, makanya saya harus kerja. Kalau tidak, siapa yang memberi makan. Kalau di Indonesia enak. Apa-apanya murah. Kekayaan alam banyak, tanahnya subur. Tanam bibit dan beternak saja sudah bisa makan, gak perlu kerja. Kalau di Singapore, semua beli, semua mahal". lanjutnya.

Perbincangan dengan kakek pengemudi taksi itu, menghadirkan rasa syukur yang dalam sebagai orang Indonesia. Makin sadar bahwa janji-Nya selalu benar "Tuhan sesuai prasangka hamba-Nya. Bila mau berusaha, akan mendapatkan hasil".


@Catatan pagi hari dari Harbourfront menuju Changi Airport
Rabu 29 April 2015.



Tidak ada komentar: