Ketika gejala perusahaan tempat ku bekerja akan ditutup mulai terlihat, tahun 2005 saya mendirikan perusahaan sendiri, dengan bidang yang sama. Pertimbangan ketika itu sangat simpel, untuk memfollow up perusahaan yang sudah menjadi klien. Semua sudah dipersiapkan dari awal, sehingga ketika perusahaan tempat ku bekerja sudah benar-benar tutup, saya sepenuhnya mengurus perusahaan sendiri...
Mengingat prioritas ku adalah anak-anak dan keluarga, keputusan mendirikan perusahaan sendiri ku pikir adalah yang terbaik, karena anak-anak bisa ku bawa ke kantor, yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Untuk perusahaan yang masih dirintis, menjadi orang nomor satu tidak lah semudah menjadi orang nomor dua. Keberadaan ku bersama anak-anak memang sepenuhnya, tapi pikiranku 36 jam ada di luar rumah. Fisik bersama mereka, tapi lainnya di luar rumah. Hanya satu minggu ini ku jalani, lalu ambil keputusan baru untuk pending perusahaan, sepenuhnya mengurus anak
Ketika itu saya masih sangat manja, dilayani beberapa orang PRT dan sopir. Karena keterlibatan dengan anak lebih intensif, makin terpantau ada yang bolong dari tumbuh kembang mereka, salah satu yang dominan adalah kemandirian, karena sudah terbiasa dilayani. Kebolongan lain makin terlihat, sehingga ini lah yang memotivasi ku untuk mendalami pendidikan anak.
Mengingat kegiatan di rumah hanya dengan anak, itu pun dibantu beberapa orang, bermunculan beragam ide tentang pendidikan. Sebelum ide terwujud, ditemani teman saya Aji (sesama alumni di Kalam Salman ITB), kami bertemu Ibu Oke Hatta Rajasa (Istri Mentri Hatta Rajasa), yang punya program Mobil Pintar. Perbincangan dengan Ibu Oke lah yang menginspirasi saya bahwa untuk mendidik anak, orang tua nya juga perlu dididik, sehingga ketika mendirikan Yayasan Cerdas Merdeka, niatnya untuk pendidikan perempuan dan anak.
Awal berdiri, tidak lah semulus yang dibayangkan. Banyak tantangan yang menguras keuangan, mental, waktu, pikiran, mental bahkan airmata, dll... Stress pun mulai melanda, karena saya terbiasa dengan dunia profesional, tidak pengalaman dengan dunia kemasyarakatan. Namun keprihatinan melihat keterpurukan bangsa ini karena buruk nya kualitas SDM, hati nurani tidak bisa diam, sehingga itu lah yang mendorong saya untuk terus maju melawan segala tantangan.
Dengan melepas embel-embel Direktur, melepaskan segala bentuk pelayanan diri, memposisikan diri di titik nol, demi si bungsu usia 2 tahun yang homeschooling, berdiri lah Komunitas Homeschooling Cerdas, yang akhirnya demi legalitas Dinas Pendidikan dinamakan Kelompok Bermain Cerdas pada 01 September 2006. Itulah program pertama yang menginspirasi lahirnya program lainnya...
Berjalannya waktu, banyak pelajaran yang saya dapatkan, termasuk kebahagiaan pada saat melihat anak-anak, orang tua dan masyarakat binaan. Walau secara finansial saya menambal, tapi pelajaran berharga untuk kehidupan tidak dapat ditebus oleh jumlah finansial berapapun nilainya.
Dua tahun pertama, saat si bungsu masih ikut bergabung di Pendidikan Berbasis Karakter Cerdas Fun Learning, sebagai unggulan untuk pendidikan anak, saya terjun langsung, mengajar, melatih tenaga pendidik, dll, sambil sharing parenting kepada orang tua di komunitas lain, instansi pemerintah dan swasta, sekolah, dll...
Karena si bungsu sudah selesai TK, untuk memandirikan tenaga pendidik mulai tahun ini saya tidak lagi terjun sepenuhnya, sehingga saya pun mulai kembali meneruskan bisnis yang tertunda, sambil mendampingi ketiga buah hati tercinta. Sengaja tidak lagi menggunakan jasa layanan PRT menginap, hanya PRT paruh waktu, demi ketiga buah hati tercinta. Keberadaan mereka sebagai titipan Allah, sangat tak ternilai dengan apapun. Seperti apa cara mengatur waktu untuk melakukan aktifitas rumah dan luar rumah... Insya Allah akan saya sharing dalam topik yang berbeda....
"Semua anda pasti bisa, tergantung diri anda sendiri, mau atau tidak melakukannya. Kuncinya ada di keteguhan hati masing-masing. Dan percaya lah Allah tidak pernah tidur, selama ikhlas melakukannya"....
Salam Pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar