Pada suatu pertemuan, saya berkenalan dengan seorang guru pendidikan non formal, yang tanpa pamrih membina anak bangsa, dengan pelayanan gratis. Ia berharap apa yang dilakukannya dapat memperbaiki kondisi penduduk kampungnya yang tidak peduli dengan pendidikan.
Waktu satu tahun mengajar, tidak satu sen pun ia menerima bayaran. Bersyukur tahun berikutnya, pemerintah memberikan insentif Rp. 100.000/bulan yang dibayarkan tiap per-tiga bulan.
Pada awal berjuang, ia pernah menyuarakan hatinya, agar ada yang mau bergandengantangan. Tapi siapa lah ia, tidak ada yang mau mendengar suaranya. Tidak ada yang menganggap dirinya. Tidak ada yang mau menoleh padanya. Bercermin pada Laskar Pelangi, ia bak sosok seorang guru bernama Bu Muslimah yang tanpa Andrea Hirata.
3 komentar:
Mata selalu berembun kalo ngomongin guru-guru di Indoneia :(
ahmad farisi
salam bu...
benar sekali, nasib guru di Indonesia masih sangat mengenaskan, seakan masih dianaktirikan. Itulah nasib para pahlawan tanpa tanda jasa. Palah ada yang habis ngajar berubah profesi jadi pemulung, galau guru SD saya dulu palah sambil ngojek, saya kira semua itu adalah masalah ekonomi, gaji guru yang masih sangat kecil . ana salut sama Ibu, teruskan perjuangan ibu...! awali dengan niat ikhlas, insya Allah sabentar lagi akan lihat hasilnya.
salam blogger http://ahmadfarisi.wordpress.com
Terima kasih kepada teman-teman yang sudah merespon dengan baik postingan ini. Terutama untuk Mbak Keke Rachmad (Writers) dan Mbak Holy Setyowati (Human Science ABO Center) yang langsung berbuat nyata untuk Ibu Muslimah yang tanpa Andrea Hirata ini...
Posting Komentar