Jumat, 12 Maret 2010

Bolehkah Berpura-pura Saat Mendidik Anak?

"Anak suka jajan, kalau tidak dituruti suka menangis. Akhirnya ibu mengosongkan dompetnya dan menunjukkan pada anak, berpura-pura tidak punya uang. Bolehkah hal tersebut dilakukan, mengingat kadang muncul rasa bersalah pada anak setelah melakukan hal tersebut?" pertanyaan Ibu Bayu tentang anaknya berusia 3 tahun, di acara Talkshow Parenting Skill, Kamis 11 Maret 2010.

Jawaban pertanyaan...
"Pura-pura bukanlah prilaku natural secara apa adanya, sehingga ketika pura-pura dilakukan, tentu saja memunculkan rasa bersalah. Bagaimanapun nilai kebenaran dalam diri seseorang tidak akan terhapus oleh alasan apapun, termasuk alasan mendidik anak. Sehingga setelah Ibu Bayu berpura-pura tidak punya uang pada anaknya, muncul rasa bersalah dalam diri Ibu Bayu.

Kenapa? Karena secara tidak langsung ada pesan bohong dari sikap pura-pura yang dicontohkan orang tua pada anak. Akibatnya, suatu hari nanti anak akan melakukan sikap pura-pura untuk kasus yang bisa saja sama atau berbeda.

Bagaimana sebaiknya orang tua mensikapi anak yang keinginan jajannya tinggi?

Saya ingat pengalaman kami beberapa tahun lalu saat belanja ke pusat perbelanjaan. Sebelum berangkat, anak-anak sudah sepakat, masing-masing hanya membeli satu mainan. Ketika melihat mainan lain, salah satu dari anak kami ingin dibelikan beberapa mainan. Sesuai kesepakatan awal, maka keinginan tersebut tidak kami penuhi.

Saya jelaskan pada anak "Jatah uang untuk beli mainan sudah tidak ada, karena sudah digunakan". Ketika itu anak-anak menjawab "Kan masih banyak uang di dompet mama". "Iya nak, uang masih banyak di dompet mama, tapi bukan untuk beli mainan. Uang yang ada di dompet mama akan digunakan untuk keperluan sekolah, makan, susu, dll" jelasku. Anak-anak menjawab "Mama kan bisa ambil uang di ATM". "Betul Nak, tapi uang di ATM bukan untuk beli mainan".

Jadi, orang tua dapat mengatasi prilaku anak tanpa perlu berpura-pura.

Tidak ada komentar: