Minggu, 14 Maret 2010

Ketika Anak Bungsu Mengidap Leptospira Bagian 1

PANAS, STABIL BOLAK BALIK
Rabu 03 Maret 2010

Suhu tubuh bungsuku mendadak tinggi, keceriaannya langsung hilang. Sementara kondisiku sedang tidak stabil, sehingga proses terapi yang dilakukan jadi tidak maksimal

Jumat 04 Maret 2010
Bungsuku dibawa ke dokter langganan. Hasil diagnose sementara tidak ada indikasi sakit demam berdarah. Dokter memberi obat penurun panas berupa puyer racikan dan antibiotic. Kondisiku yang belum stabil belum dapat melakukan healing dengan maksimal

Sabtu 05 Maret–Senin 08 Maret 2010
Obat penurun panas dari dokter langganan sudah habis, hanya ada antibiotic. Kondisi bungsuku sudah lebih sangat baik dari sebelumnya.

Selasa 09 Maret 2010
Alhamdulillah aku bisa mengisi workshop di Sucofindo Bekasi dengan tenang, karena bungsuku sudah pulih. Sampai di rumah, mendadak tubuhnya panas lagi, jadi kembali dibawa ke dokter langganan. Ternyata yang bertugas dokter pengganti yang beri rujukan untuk periksa darah. Hasil periksa darah dinyatakan negative demam berdarah. Alhamdulillah…

Rabu 10 Maret 2010
Kondisi bungsuku stabil, gembira saat temannya main ke rumah dan mereka bermain di halaman depan rumah kami. Akupun dengan tenang mengisi workshop hari kedua di Sucofindo Bekasi.

Kamis 11 Maret 2010
Pagi ini mendadak tubuh bungsuku panas tinggi lagi. Karena bungsuku memilih tidur, jadi dititip ke Eyangnya, agar aku dapat mengisi talkshow di Radio Gaya dan menginterview calon orang tua murid di Cerdas. Telpon Eyang Uti membuatku segera pulang, karena bungsuku mengeluh pusing dan sakit kepala. Siang itu juga dibawa ke RSIA Hermina dan langsung dirawat inap.

HASIL DIAGNOSA
Kamis 11 Maret 2010 sore

Bungsuku masuk ruang IGD dan diperiksa oleh dokter yang pernah memberikan rujukan untuk periksa darah di klinik dokter langganan kami. Karena panasnya sudah seminggu, akhirnya bungsuku perlu diperiksa secara intensif dan dirawat inap. Ketika memasang jarum infus, suster sekalian mengambil darah untuk kembali diperiksa di lab dan urinnya pun dites. Beberapa jam setelah itu suhu tubuhnya kembali normal, dia pun makan malam dengan lahap.

Tidak siap menginap, aku pulang sebentar, bungsuku ditunggui papanya. Saat balik ke rumah sakit, Kakak-kakaknya dan Eyang Kung ikut, sekalian bezuk anakku, walau hanya sebentar.

Bungsuku curhat “Kenapa kakak hanya sebentar lihat Adek?” pertanyaan yang membuatku terenyuh.

Jumat 12 Maret 2010
Hasil pemeriksaan - Darah : leptospira +, Urine : lekosit 8-10, silinder granula 2-4, protein +. Dengan terdeteksinya penyakit bungsuku, memberi peluang dokter menangani secara tepat. Namun hari ini bungsuku batuk, walau kadang-kadang. Makan dan snacknya Alhamdulillah masih lahap. Setelah botol infus kedua, dokter mengijinkan anakku tidak perlu lagi diinfus

Eyang Uti cerita “Semalam Kak F sulit tidur karena ingat Mama. Kak F bilang, gak enak gak ada Mama”. Curhat anak laki-lakiku mengingatkanku bahwa bagaimanapun sosok ibu tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun.

Sabtu 13 Maret 2010
Berharap hari ini bisa pulang, ternyata dari hasil visit dokter siang ini, bungsuku belum bisa pulang dengan pertimbangan hasil pemeriksaan urinenya juga ada kuman. Magrib tiba-tiba Kak D telpon, seakan kecewa kami tidak jadi pulang ke rumah. Kak D memberitahu Senin akan ujian dan minta Mama ada di rumah. Ada rasa sedih menyelinap mendengar suara Kak  D sarat rasa kangen. Kondisi anakku menuntut kami semua perlu membangun pengertian dan empati.

Tidak ada komentar: