Sabtu, 13 Maret 2010

Mengajarkan Anak Memaknai Sakit

Pagi itu suhu tubuh Karin mendadak panas tinggi. Saking tinggi suhu tubuhnya, Karin sampai mengeluh pusing dan sakit kepala. Ku coba peluk tubuh mungilnya sambil berbisik "Karina anak Mama yang kuat, walau sakit, Adek bisa berusaha untuk tidak mengeluh".

"Kenapa Adek bisa sakit seperti ini Ma?" pertanyaan Karin membuatku terenyuh. "Mama pernah ingatkan Adek untuk sikat gigi kan? Waktu itu Adek marah. Padahal Mama bermaksud mengingatkan, bila Adek gak sikat gigi, makanan yang masuk ke perut kena kotoran dan kuman yang ada di gigi. Akibatnya menimbulkan penyakit seperti sakit perut, sakit kepala, dll.

"Kepala Adek pusing Ma" keluh Karin. "Ok sayang, tenang ya Nak dan doa pada Allah yuk" bujukku.

"Sekarang Adek bisa tenang?" tanyaku usai berdoa. "Ngak bisa" jawabnya sambil kemudian mengeluh lagi kesakitan.

"Coba ingat, sudah berapa hari Adek sakit? Lama mana dibandingkan dengan Adek sehat?" tanyaku sambil tetap memeluk tubuhnya. "Lebih lama Adek sehat, Ma" jawabnya. "Kalau Adek tenang, Adek bisa lebih kuat dibanding Adek mengeluh. Apa Adek sekarang mau mengeluh atau tenang sambil berdoa?" tanyaku. "Tenang sambil berdoa, Ma" jawabnya.

"Ok, sekarang Adek bisa tenang sambil berdoa? tanyaku. Karin menjawab dengan mengangguk, kemudian memejamkan matanya sambil berdoa, sampai akhirnya diapun tertidur lelap.

"I love u Nak, you are my spirit"

Tidak ada komentar: